Pengalaman Ngejar-ngejar PTN Si Anak IPA Otak IPS

Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokaatuh..
Halooo para pembaca blog..

oke langsung aja ya,

NOTES: Karena terdapat banyak singkatan, jika kalian tidak tahu, kalian bisa tanya mbah google ya!


Rata-rata orang berjuang dapetin PTN dari sejak SMA atau tingkat yang sederajat. Dan kebanyakan dari mereka, baru mikirin mau kuliah dimana dan jurusan apa pas udah kelas 12 atau tingkat ketiga atau tahun terakhir SMA.
TAPI itu mereka yang belum tahu minatnya dimana.
Aku sendiri sudah memutuskan jurusan apa dan PTN apa yang akan ku tuju sejak kelas 10. Karena aku sudah mantap setelah ribuan kali berpikir apa minatku yang sebenarnya dan ribuan kali juga mencari info dari berbagai macam media. Itu adalah, AGH-IPB.

Saat naik ke kelas 12, aku melihat catatan nilai-nilai ku dari semester 1-5, serta urutan ranking kelas dan ranking sekolah yang ku dapat selama menjadi murid di SMA ku. Secara mengejutkan, aku baru tahu kalau waktu kelas 10 semester ganjil aku pernah juara 1 di kelasku sendiri. Hahaha.. Kemudian seterusnya rankingku semakin turun dan naik lagi dan turun lagi. Karena memang aku anak yang tidak pintar juga tidak bodoh alias hampir biasa saja. (hampir lho ya! wkwk)


*PART SNMPTN*

Saat tiba waktunya SNMPTN, semua murid disarankan untuk konsultasi pada guru BK juga orang tua masing-masing. Karena guru BK sibuk sekali mengurus teman-temanku yang selalu datang berbondong-bondong mengunjungi ruangannya. Aku merasa sudah diwakili datang ke guru BK, jadi aku langsung saja berunding dengan kedua orangtuaku. hahaha

Saat aku konsultasi dengan kedua orangtuaku masalah SNMPTN ini dan bertanya pendapat mereka, mereka tidak setuju aku memilih AGH-IPB. Dan aku tidak suka pada jurusan dan PTN pilihan yang mereka usulkan. Karena ku pikir itu bukan minatku dan sangat bertolak-belakang dengan apa yang aku impikan. Aku jadi bingung dan gelisah sendiri saat orangtua yang kupikir akan mendukung malah sebaliknya. Aku pun memutuskan untuk bertanya pada sahabat-sahabatku, beberapa senior, dan teman yang lumayan dekat denganku.

"Kasih saran dong, mendingan ngambil jurusan di PTN favorit kita atau cari aman ambil yang peluangnya besar?"

Dan seingatku mereka semua menjawab dengan inti yang sama seperti berikut,

"Ikutin kata hati lo aja mel. Lo sukanya apa? Yaa pilih itu aja. Jangan terlalu diambil pusing"

Akhirnya aku pun memilih tidak memilih jurusan yang aku minati seperti kataku di atas. Karena setelah ku cari tahu, peminat AGH-IPB luar biasa banyak. Jadi, pada
1. pilihan pertama, aku memilih THP-IPB
2. kedua, Meteorologi Terapan-IPB, dan
3. ketiga, TI-UPN Jakarta.

Kenapa pilihan pertama THP-IPB? Karena aku cinta mati pada IPB dan THP adalah jurusan dengan persentase keketatan yang lumayan besar alias persaingan lumayan rendah. Pilihan kedua dan ketiga tidak terlalu penting sebenarnya, karena yang di prioritaskan dalam SNMPTN adalah apa yang kita tempatkan di pilihan pertama. Artinya peluang lolos di pilihan kedua atau ketiga sangatlah rendah. Jadi, tidak perlu dibahas ya, hahaha.


Seperti yang aku dan mungkin kalian serta mereka-mereka duga,
aku dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2017. 
Dan JLEBBB,

"AAAAAAAAAAAA SAAKIIIIIIIIT MAAAAKKKKK! EMAAAAAAAK!!!! EMAAAAAAAAAAAAK!!! HELP!!!!! HEEEELLP!!!!!! MAMAAAAAAA.. AKU GAGAL MAAAAAA HUUAAAAAAAAAA HIKS HIKS.."

Ada yang kira-kira seperti itu? Nangis, bersedih, bermuram durja, dll semacamnya. Ada? Ya, ada lah! Tapi aku tidak.
Aku berbeda.
Aku tidak sedih sedikit pun saat gagal jalur SNMPTN. Karena, itu adalah kegagalan ku yang pertama. Dan aku sadar sekali, seperti kataku di atas rankingku naik turun naik, itu menjadi bukti bahwa nilai-nilaiku tidak stabil dan tanda bahwa kesempatan kali ini tidak berpihak padaku. Jadi sudah dari awal aku tidak berharap. Namun karena aku masuk ke daftar orang-orang yang di bolehkan ikut SNMPTN, aku pun mengikutinya.


*PART PMB STMI*


Sekitar seminggu setelah pengumuman SNMPTN dan beberapa minggu sebelum tes SBMPTN, aku mengikuti PMB STMI Otomotif Indonesia Gelombang I bersama dengan seniorku yang gap year karena masalah pribadinya, sebut saja Kak Wasih. Dan sebelum tes, dari jauh-jauh hari aku sudah mengumpulkan banyak info tentang PMB STMI ini. Kata beberapa seniorku yang sudah menjadi mahasiswa STMI,



"Soal tesnya mirip seperti soal UN anak SMA dek, ditambah kalau mengikuti tes gelombang satu yang pesaingnya tidak sebanyak gelombang tiga, pasti peluang kamu lolos seleksi lebih besar"



Ya, intinya mereka semua berkata kurang lebih seperti itu. Aku dan Kak Wasih sangat semangat mengetahui itu. Apalagi Kak Wasih tahun lalu termasuk salah satu murid pintar disekolahku dan dia sudah pernah lolos PMB STMI Gelombang III tahun lalu di prodi SIO-STMI. Hanya saja dia dinyatakan sebagai maba cadangan, dan dia pun tidak tahu kalau para cadangan semuanya diterima asalkan mereka mendatangi STMI lagi untuk konfirmasi bisa atau tidaknya menjadi maba STMI, sedangkan Kak Wasih tidak melakukannya, jadi dia gagal saat itu.



Kembali ke saat PMB STMI,

Setiap prodi yang kita pilih memiliki mata ujian yang berbeda-beda, kecuali SIO dan Administrasi Otomotif yang sama-sama hanya ada dua mata ujian yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Karena aku mengambil prodi TIO-STMI, mata ujian yang ku kerjakan adalah Matematika, Bahasa Inggris, dan Fisika. Sedangkan Kak Wasih mengambil prodi Administrasi Otomotif-STMI.

Soalnya benar-benar mirip seperti soal UN, lebih tepatnya soal UN 2016, atau latihan soal yang ku kerjakan untuk UN 2017. Dan tidak ada sistem minus, jadi kita diwajibkan mengisi semua nomor tanpa terkecuali. Dan setelah selesai, kita tidak diperkenankan membawa pulang soalnya.



Jarak antara waktu tes dan pengumuman tidak terlalu jauh, hanya berselang beberapa hari saja, tidak sampai seminggu penuh. Jadi aku tidak terlalu lama menunggu untuk bisa tahu hasilnya. Dan pada hari diumumkannya peserta yang lolos,
aku melihat namaku tertera di hasil PMB STMI Gelombang I yang di lampirkan di websitenya, itu artinya aku dinyatakan lulus PMB STMI 2017.
Tapi aku tidak melihat nama Kak Wasih. Aku kaget sekali dan tidak percaya. Karena aku ingat setelah selesai tes kak Wasih mengatakan dengan yakin padaku bahwa hanya beberapa soal yang ia ragu menjawabnya, jadi, masa iya dia gagal? Sedangkan aku yang lebih banyak ngasal karena lupa rumus, menjadi bingung kenapa aku bisa lolos.



Di pengumuman hasil PMB STMI, juga diberitahukan kepada camaba yang telah lolos seleksi untuk segera mendaftar ulang. Dan waktu yang diberikan hanya 2 minggu. Sekali lagi aku kaget pada saat itu. Aku jadi blank, karena aku sendiri hanya berniat untuk menjadikan STMI sebagai cadangan apabila aku gagal di SBMPTN. Sedangkan tes SBMPTN saja belum dan pengumumannya pun diumumkan masih satu bulan berikutnya.

Aku sangat dilema
untuk mengambil atau tidaknya kesempatan meraih PTN yang telah Allah swt berikan padaku ini. Di sisi pro pertama, aku ingat alasan utama aku ikut tes masuk STMI adalah karena aku ingin melihat seseorang yang sudah lama tidak kulihat semenjak kelulusannya dari sekolahku dan aku memang sangat ingin bisa melihatnya lagi. Di sisi pro kedua, aku takut juga kalau nantinya aku kualat karena sudah menolak PTN yang siapa tahu mungkin disinilah takdirku. Tapi di sisi yang lebih kuat yaitu sisi kontra tentunya, aku masih keukeh ingin mencoba tes lain. Aku merasa tidak akan nyaman kuliah yang ada embel-embel "otomotifnya"
karena sangat jauh dari apa yang aku minati sebenarnya.

Jadi aku putuskan untuk tidak mengambilnya walaupun berat hati, karena aku sadar rasanya seperti manusia yang tidak bersyukur. Aku merasa bersalah pada Kak Wasih yang tidak lolos dan pada teman-temanku sedang bersusah payah berjuang mendapatkan PTN. Sedangkan aku yang sudah dapat? Malah dengan egoisnya aku abaikan. (Maafin aku ya kak, maafin aku teman-teman seperjuangan..)

*PART SBMPTN*


Jalur berikutnya yang aku ikuti adalah SBMPTN. Di sekolahku, kebanyakan murid membeli buku UN dan SBMPTN saat sudah beberapa bulan mendekati hari H saja. Tapi aku sudah beli dari awal kelas 12 tanpa ada satu pun teman bahkan sahabatku yang tahu. (Karena mereka tidak bertanya dan aku juga tidak ingin menunjukkannya. Aku juga tidak mau dianggap keren atau sombong karena sudah start lebih dulu). Aku sadar akan lambatnya otakku dalam memahami materi belajar, dan aku juga tidak .ada biaya untuk les tambahan di luar sekolah yang aku pikir itu akan sangat mahal dan membebani orangtuaku yang notabene bukan orang kaya jadi beli buku adalah solusi yang tepat, kan?

Tapi ujung-ujungnya aku malah belajar SBMPTN saat tinggal sebulan menjelang hari H. Dikarenakan, kepsek dan guru-guru di sekolahku selalu mendorong muridnya untuk lebih fokus pada UN demi nama baik sekolah. Padahal setelah selesai UN, begitu aku membuka buku SBMPTN ku, aku melihat soal-soal SBMPTN tahun-tahun sebelumnya yang membuatku tercengang.
Aku tidak bisa mengerjakan bagian saintek walaupun aku anak IPA.
Ntah karena aku tidak mengerti sama sekali tentang kimia dan tidak paham konsep mtk ipa, fisika, serta biologi atau memang karena soalnya sangat rumit. Yang jelas aku sangat pusing saat itu.

Setiap hari dalam kurun waktu sebulan menjelang hari H SBMPTN aku terus belajar meskipun kadang hanya sejam saja dalam sehari atau berjam-jam tapi hanya bagian TKPA dan Biologi saja.

Kalau dipikirkan lagi, belajar sendiri untuk tes penting itu tidaklah mudah atau menyenangkan. Namun saat itu aku masih termasuk kategori anak pemalu, sehingga enggan meminta bantuan pada teman-teman yang pandai. Selain itu aku berpikir teman-temanku yang pandai pastilah lebih sibuk belajar untuk SBMPTN daripada aku, apalagi banyak dari  mereka yang juga mengikuti les intensif yang mengharuskan try out tiap akhir pekan. Aku merasa tidak enak kalau mengganggu mereka yang sudah lelah dengan semua jadwal padat mereka.

Saat mendaftarkan diri untuk ikut SBMPTN, aku memilih jurusan yang aku minati tapi tidak PTN favoritku yaitu IPB. Aku sudah berunding dengan orangtuaku, dan kami sepakat untuk cari aman dengan memilih jurusan yang akreditasinya B-C. Agar yang terpenting, aku lolos. Jadi kali ini, pada
1. Pilihan pertama, aku memilih Agroekoteknologi-UNDIP
2. Kedua, Agroekoteknologi-UNTIRTA, dan
3. Ketiga, Agroteknologi-UNSIKA

Pada saat hari H, aku berangkat dari rumah pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, ke stasiun kereta terdekat. Aku dan salah seorang temanku, sebut saja mauri, lokasi tes SBMPTN kita sama. Jadi, kita janjian untuk berangkat dan pulang bersama. Kalo ada temen kenapa harus sendiri, kan? wkwkwk

Di lokasi SBMPTN itu suasananya tegang sekali. Saat aku dan temanku tiba di lokasi, kami menyaksikan mereka, ratusan peserta alias para pesaing kami masih banyak yang berkutat pada buku andalannya masing-masing, sisanya ada yang memegang gadgetnya untuk chatting, telepon, bahkan snapgram ! OMG wkwkwk.. Ada yang hanya diam duduk-duduk dengan mata yang mondar-mandir, ada yang berdiri sambil menatap ruang ujiannya, ada yang jalan mondar-mandir ntah manfaatnya apa selain membuat diri sendiri semakin panik dan gugup. Sedangkan aku dan temanku? We weren't on that kind of situation, of course yash! Kita tuh malah ngobrol ngalur ngidul, bercanda sampe ngakak-ngakak sakit perut dan itu asik banget. Jadi rileks banget dan bikin gak kaku plus tegang kaya mereka-mereka. Wkwkwk.. (Ya kan maur? baca ini gak mauri? hehe)

Pas waktunya masuk dan mulai tes itu dahsyat banget.
Bagian TKPA aku isi cuma hampir setengahnya lebih dari jumlah soal yang ada. Bagian TKD SAINTEK aku cuma isi 20 nomor dan itu pun sebenernya yang aku bisa cuma hampir 10 nomor doang, sisanya aku ngasal.
(GILAAA! Parah banget kan?) Nekat abis ngehitamin pilihan ganda yang aku sendiri ragu jawabannya, hanya karena sekilas aku lihat lembar jawaban orang-orang yang duduk di depan aku sudah banyak sekali yang di hitamkan. Bodoh banget malah milih ngasal? Duh! Ckckck..

Pengumuman SBMPTN itu lama. Daripada hanya diam menunggu dengan hati gak karuan juga otak yang kepo sama hasilnya, lebih baik baik nunggu sambil ikut tes-tes seleksi masuk PTN di jalur masuk PTN favorit kita.

Di perjalanan pulang, aku dan mauri bertukar cerita tentang bagaimana kami mengerjakan soal SBMPTN, bagaimana suasana ruangan kami masing-masing, dan bagaimana bapak / ibu pengawas mengawasi kami.

Setelah selesai tes SBMPTN, di rumah, aku mengistirahatkan diriku dengan bersantai dan bermalas-malasan. (bermalas-malasann yang aku maksud disini adalah aku tidak belajar dan tidak menyentuh buku-buku pelajaran sejenak) Lalu aku membuat plan A, B, C untuk kedepannya sambil menunggu hasil SBMPTN keluar dan juga memikirkan bagaimana jika aku gagal nantinya.

Pengumuman SBMPTNnya aku ceritakan di Part UTM ya, karena sambil menunggu hasilnya aku mempersiapkan diri untuk UTM IPB.


*PART UTM IPB*

Karena aku adalah pecinta IPB, aku selalu mengumpulkan informasi tentang semua jurusannya dan jalur-jalur masuknya. Saat IPB sudah membuka pendaftaran jalur mandiri S1 alias UTM IPB sehari sebelum tes SBMPTN aku sudah berniat untuk daftar saat itu juga. Tapi tidak mungkin, karena aku harus mendahulukan tes SBMPTN dulu, baru UTM IPB.

Setelah urusan SBMPTN selesai, aku kembali memikirkan UTM IPB. Aku rajin mencari info tentang UTM IPB,
Aku sangat menginginkan IPB. Sudah dari kelas 10 aku memiliki impian untuk menjadi Mahasiswa IPB. 
Aku ingin punya persiapan yang matang agar percaya diri menghadapi tesnya dan tentu saja agar bayang-bayang ketakutan akan gagal tidak menghantuiku. Aku yang aktif di beberapa sosmed, melalui instagram memfollow-up akun-akun tentang info IPB dan info seputar perkuliahan.

Dan di situlah aku menemukan info bahwa Bimbel Katalis IPB adalah tempat les berpengalaman yang membuka beberapa gelombang pendaftaran les intensif untuk UTM IPB yang bertempatkan di Dramaga, Bogor.

Aku mencari tahu seperti apa Bimbel Katalis itu, berapa banyak yang lolos setelah les disana, berapa biaya lesnya, dan hal-hal lainnya yang aku kepokan.

Beberapa hari setelah selesai SBMPTN, tanpa pikir panjang aku pun mengutarakan niatku pada ibuku, kalau aku berniat untuk daftar les di katalis dan ngekos di Bogor agar bisa masuk IPB. Dan terjadilah drama saat itu, ada banyak sekali konflik pro&kontra.
Ibuku yang awalnya tidak setuju dalam beberapa hari menjadi setuju setelah aku yakinkan. Mungkin juga karena beliau melihatku nelangsa.
Singkat cerita, aku pun les di Bimbel Katalis selama hampir sebulan, tepatnya 27 hari sebelum UTM IPB. Saat-saat les adalah masa-masa yang sangat menyenangkan apalagi saat sudah mulai puasa di Bulan Suci Ramadhan. Dan karena lokasi les dan IPB sangatlah dekat, karena bersebrangan saja. Jadi,
setiap hari aku bisa melihat dan main ke IPB, kampus idamanku! *ALHAMDULILLAH LUAR BIASA ALLAHU AKBAR!!! *
Dari Katalis, aku berkenalan dengan teman-teman baru juga tentor-tentor yang menyenangkan. Aku memiliki banyak teman dan teman-teman dekatku bertambah karena seringnya menghabiskan waktu bersama, terutama teman sekost an. Semua yang les rata-rata datang dari pulau-pulau yang jauh untuk les di katalis dengan niat yang sama sepertiku, untuk masuk IPB tentunya. Aku sangat senang dan sangat bersemangat. Aku jadi lebih rajin belajar di sana karena suasananya yang sangat mendukung untuk lebih produktif. *katalis dekat dengan IPB, otomatis disana adalah lingkungan mahasiswa, dan kalau ngekost di daerah sana sudah seperti mahasiswa.*

*Hasil SBMPTN*
Beberapa minggu setelah les di katalis dan hampir seminggu menuju waktu tes UTM IPB adalah pengumuman hasil SBMPTN. Dan saat itu adalah hari les, jadi aku berencana membukanya saat sudah selesai les.

Setelah selesai les, bersama dengan seorang teman dekat yang juga teman kost an ku, sebut saja nisin, kami berdua pergi mencari warnet disekitar wilayah Dramaga Bogor. *warnet kan kecepatan internetnya mengalahkan sinyal smartphone, wkwkkwk atau aku sama temenku doang yang susah buka lewat hp ya? hhahahha* Kami berdua hanya menggunakan satu komputer, jadi bergantian. Dan yang pertama login adalah aku. setelah memasukkan nomor peserta dan tangga lahir, aku berdoa dalam hati dan menyiapkan mental, dan saat aku klik! keluarlah hasilnya,
Aku dinyatakan tidak lulus seleksi SBMPTN 2017.
Wah.. ngejelasin rasanya tuh gimana ya? Sedih sih enggak, tapi kaget aja gitu. Aku kan pilih jurusan dengan akreditasi b dan c saat SBMPTN. Masa gagal sih? Aku merasa bodoh banget. Kayanya hampir semua jawaban aku banyak yang meleset alias salah. Aku kepo berapa sih nilai hasil SBMPTNku? Apa minus ya? Duh..

Selanjutnya gantian nisin yang login dan dia pun sama sepertiku, gagal. Awalnya dia menghiburku, *meski aku tidak perlu dihibur karena sudah ikhlas* bahkan beberapa menit saat dia tahu dia gagal dia masih menghiburku. Akupun juga melakukan hal yang sama, aku menghiburnya.
Aku pun melawak agar kami cepat move on dan kami tertawa bersama. Tapi lama kelamaan dia mulai memperlihatkan isi hatinya yang sebenarnya.
Dari ekspresi dan gelagatnya aku tahu dia sedih dan kecewa sekali saat tahu ia gagal, berbeda denganku yang sudah langsung menunjukkan ekspresi legowo dan bersikap biasa saja.

Sampai di kost an, dia langsung masuk ke kamarnya dan mematikan lampunya. Dia menangis dan mengurung diri. Aku yang mudah ber-empati pun jadi terbawa emosi dan ikut sedih melihat temanku nisin. Aku baru tahu SBMPTN sangatlah penting untuknya. Aku tidak bisa menghiburnya, karena dia berkata hanya ingin sendirian dan akan lebih sedih jika di hibur.

Lalu aku masuk ke kamarku kost ku, dan bertanya pada teman sekamar yang juga teman kost ku apakah ia lolos? Karena teman sekamarku, sebut saja thata sangat pintar dan rajin sekali belajar, jadi aku merasa yakin ia akan lolos. Dan benar saja,
ia bilang, ia lolos! Wah.. aku tidak kaget karena memang dia pintar, aku kaget karena dia berhasil masuk IPB. Aku senang sekali mendengarnya. Aku beruntung bisa berteman dengan orang hebat seperti dia.
Thata bertanya bagaimana dengan aku dan nisin, aku dengan cepat menjawab kami berdua gagal, tapi nisin sangat sedih sampai mengurung diri di kamarnya. Aku pun mengatakan pada thata untuk menghibur nisin, dan kami pun masuk ke kamar nisin untuk menghiburnya.

*Kembali ke UTM IPB* 
Aku mendaftar UTM IPB sudah dari sebelum les, namun baru 2 minggu sebelum tenggat pendaftarannya aku mentransfer biaya UTM, dan baru 3 hari sebelum tenggatnya pula aku baru mengisi biodata. Dikarenakan, para murid katalis dihimbau untuk konsultasi terlebih dahulu pada walikelas masing-masing tentang perkembangan nilai-nilai try out selama les di katalis, sebagai pertimbangan sebelum memilih jurusan dan fiksasi pendaftaran UTM IPB.

Aku yang les karena ingin bisa masuk jurusan AGH-IPB, diberi tahu oleh wali kelasku kalau AGH adalah jurusan yang sangat favorit. Bahkan parahnya, belum pernah ada anak katalis yang berhasil masuk jurusan itu. Teman-teman dan para tentor sangat tidak menyarankan aku memilih AGH-IPB setelah tahu hal itu. Mereka menasihati dan terus bertanya padaku,
"Kamu yakin mel? Menurut kamu lebih baik mana, diantara masuk IPB dengan jurusan belum kamu sukai atau gagal setelah mencoba masuk dengan jurusan yang kamu sukai?"
Kira-kira seperti itulah inti pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Dan entah kenapa aku tidak goyah sedikitpun. Aku dengan egoisnya tetap memilih AGH-IPB dan tidak peduli pada kecilnya kemungkinan lolos. Saat itu aku merasa yakin pada diriku sendiriku dan aku juga sudah membuat nazar agar lebih yakin lagi. Jadi,
1. Pada pilihan pertama, aku memilih AGH-IPB
2. Kedua, THH-IPB

Karena mendaftar pada hari-hari terakhir, lokasi UTM IPB ku jauh sekali dari lokasi utama yaitu Kampus IPB sendiri. Saat hari H ujian, aku bersama dengan teman-teman kost an ku, berangkat sehabis sholat subuh dengan menggunakan jasa GrabBike secara terpisah agar lebih cepat.

Saat di lokasi, waktu menunjukan masih satu jam lagi sebelum ujian dimulai.
Saat itu aku gugup dan sedih. Sekelebat perasaan tidak enak menjalar ke sekujur tubuhku. Aku iri sekali melihat peserta UTM yang datang bersama orangtua masing-masing. Aku teringat ibuku. Bagaimana kalau aku gagal? Aku teringat semua perjuangan panjang ibuku untukku. Rasanya ingin sekali menangis. Tapi aku ingat kalau aku sudah banyak menangis sebelumnya karena alasan yang sama. Aku berusaha mengalihkan perasaanku.
Untunglah, ternyata aku satu lokasi dengan beberapa teman lesku, jadi aku ada teman mengobrol untuk menghilangkan nervous. Kami sempat membahas beberapa hal yang sudah dipelajari di les-an sebelumnya, sebelum memasuki ruang ujian kami masing-masing.

UTM IPB terdiri dari 3 tes, yaitu :
1. Saintek
2. Bahasa Inggris
3. Test talenta. Tentang kepemimpinan, kewirausahaan dan cinta pertanian.
masing-masing tes di batasi dengan waktu istirahat.

Setiap istirahat aku berkumpul dengan dua orang temanku yang satu lessan, yang satu adalah murid yang cukup pintar dan yang satunya biasa saja tapi memilih jurusan yang sama denganku, AGH-IPB. *just like me, wuahhahha*

Saat tes, aku kacau sekali. Aku tetap tidak bisa mengerjakan soal kimia, bahkan untuk menebak saja aku tidak berani.
Aku menjawab 36 soal saintek dari 60 soal, 18 soal bahasa inggris dari 20 soal, *soal bahasa inggris tidak ada sistem minus* dan semua soal talenta dari ratusan soal yang ada.
Selesai tes, aku langsung kembali ke kost an karena ibuku berpesan agar aku langsung pulang. Jadi, aku menggunakan jasa GrabBike lagi karena
Kota Bogor macet parah akibat UTM IPB.
Sampai di kost an, aku menangis mendapati bahwa teman-teman kost an yang sama-sama les di katalis-setelah selesai tes UTM IPB-mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah di kotanya masing-masing. Maka, tanpa istirahat meski badan pegal dan lelah akibat macet sebelumnya, aku pun bersiap-siap juga untuk pulang ke rumah di Jakarta. *disini aku ngepacking barang aku sambil nangis ngeliat kamar kost dan ruangan yang sepi plus hampa tanpa temen-temen kost an yang asik-asik.

Di perjalanan pulang, Kota Bogor masih saja macet. Untuk sampai ke stasiun aku naik GrabBike lagi dan mengalami macet berjam-jam lamanya. *sampai tulang punggung dan paha pegal luar biasa, dan bokong hampir mati rasa. wkwkwk* Dan ketika sampai di stasiun, aku kaget karena ribuan orang mengantri membeli tiket dan berdesak-desakan saat menaiki gerbong kereta. Mungkin karena saat itu bulan puasa dan sudah hampir lebaran. Ditambah dengan peserta UTM yang mungkin ingin pulang ke kota asalnya. *just like me hohoho*

Hari sudah malam saat aku tiba di rumah. -Bahkan aku berbuka puasa di stasiun dengan membeli air dan roti di toko yang padat pengunjung- Aku langsung mencium tangan ibuku dan tertidur karena badanku terasa pegal luar biasa akibat kelelahan selama perjalanan juga karena menenteng tas tas besar. *seingatku, aku ditodong berbagai pertanyaan oleh adik-adikku saat pulang. Mereka bertanya banyak sekali, yang kuingat cuma beberapa, seperti, "kakak di bogor bagaimana? enak gak ka?", "kakak bawa oleh-oleh gak?", "kakak gimana ujiannya IPB nya?" tapi aku menjawabnya keesokan harinya. Aku tidak kuat menahan kantuk akibat lelah. Aku bahkan tidak terawih malam itu.*

Jarak waktu tes dan pengumuman hasil tes UTM IPB hampir sama dengan SBMPTN, yaitu hampir sebulan.

Menunggu pengumuman hasil UTM IPB berbeda dengan menunggu hasil tes PTN-PTN sebelumnya. Aku lebih gugup dan cemas sepanjang hari karena sangat sangat berharap akan lolos dan bisa kembali ke Bogor sebagai Maba IPB.

Dalam kecemasanku aku melihat kembali rencanaku. Rencana A ku, yaitu SBMPTN sudah gagal. Selanjutnya rencana B, yaitu IPB masih on going. Jadi aku melihat Rencana C, yaitu mengikuti tes mandiri PTN seperti Penmaba UNJ/ UM PNJ / UM Vokasi IPB.

Aku ingin mendaftar ujian mandiri berikutnya, tapi tidak berani meminta uang lagi pada ibuku. Karena aku sudah menghabiskan jutaan rupiah dalam waktu singkat hanya untuk les dan tes masuk IPB, jadi kuputuskan menunggu hasil pengumumannya dulu.

Di hari lebaran dan beberapa hari setelahnya, aku berkumpul dengan keluarga besarku.
Saat itu menjadi hari-hari berat bagiku, karena keluarga besarku alias sekumpulan orang yang sangat penting dan sangat ku sayang bertanya satu hal yang sama. "Kuliah dimana mei?" Dan pertanyaan itu belum bisa ku jawab saat itu juga, namun ingin kubanggakan nantinya.
Aku hanya berkata, "tunggu aja kabar baiknya nanti ya, hehe"

Aku bilang begitu karena mengikuti saran temanku, sebut saja thom. Thom adalah teman sekolahku yang sangat pintar dan sering memberi komentar atau motivasi terkait snapgram ku dan semua temannya. Dia sering menjadi supporter dadakan orang-orang yang belum sukses dapat PTN, salah satunya aku. *thanks to you, thom wkwkwk*

Dan tibalah hari pengumuman IPB yang sangat ku nanti nantikan hampir sebulan lamanya, dan selama itu pula aku mengalami gangguan tidur saking cemasnya. *mereka bilang aku insomnia* Aku deg-deg an sekali.  Perasaan berharap dan cemas mengiringku hingga ku dapati bahwa..

Aku bertemu lagi tulisan merah ketiga kalinya. Si merah yang kali ini membuatku menangis dan stress berat, sebab ia menyampaikan hal yang sebaliknya dari yang sangat ku harapkan. Aku dinyatakan tidak lulus seleksi UTM IPB 2017
Selesai membaca tulisan merah itu, aku hanya menangis dan beberapa kali memukuli badanku dengan keras. Aku muak pada diriku yang tidak bisa lolos di seleksi PTN yang sangat kuinginkan, yaitu IPB.
Tapi aku langsung sadar bahwa aku tidak boleh menyakiti diri sendiri. Aku mengalihkan keinginan tanganku yang ingin memukuli badanku dengan memainkan hp. Aku membuka semua pesan dari para sahabat, teman-teman, dan beberapa tentor yang semuanya bertanya tentang hal yang membuatku sangat sedih.

"Gimana hasil UTM IPB mel?"

Akupun menjawab apa adanya. Dan semua balasan yang kuterima dari mereka adalah motivasi untuk terus semangat, tidak larut dalam kesedihan dan mencoba lagi ikut tes PTN selanjutnya. Apalagi si thom yang balasannya panjang sekali. Aku lumayan terhibur karena itu semua.

Tapi aku masih sedih karena mengecewakan ibuku. Aku sudah menghabiskan uang hampir 10 juta dalam waktu singkat. Aku khawatir ibuku dimarahi ayahku. Aku tidak bisa menahan perasaan bersalahku pada wanita yang sudah melahirkanku itu. Aku tahu berapa banyak kerugian yang ia tanggung karenaku. Aku sedih sekali mengingat masa-masa beliau mengantarku ke Bogor dengan harapan anaknya akan sukses. Aku menyesal tidak menuruti kata ibuku untuk tidak perlu mengikuti les yang jauh dan menghabiskan banyak biaya. Aku menyesal, aku sangat menyesal.. Airmataku tidak berhenti mengalir walaupun ibuku sudah berulang kali bilang,


"Tidak apa-apa nak, sudah jangan menangis terus. Bagi mama, yang penting kamu semangatkan waktu les kemarin? Mama sama ayah sangat bangga sama kamu yang sangat bertekad kuat untuk kuliah. Kamu jadi lebih rajin belajar. Kamu sudah berusaha nak, sudah ikhlaskan saja hasil yang bukan kuasa kamu nak. Istighfar nak, jangan menangis terus.."
Mendengar perkataan ibuku itu, aku jadi ingat kata nisin sewaktu di Bogor. Kalau dihibur memang justru malah makin sedih lagi. Ternyata aku juga sama dengannya, aku semakin sedih dan malah tidak bisa berhenti menangis. Aku terus menangis sambil memeluk ibuku. Aku terus saja meminta maaf. Dan ibuku yang lelah menasihatiku agar tidak menangis, hanya diam dan tetap memelukku. Aku menangis sampai aku tertidur dan bangun dengan mata sembab dan wajah yang sangat lelah.

Esoknya aku move on dan langsung melihat Rencana C. Yaitu mengikuti tes PTN lagi.


*PART PENMABA UNJ*

Seminggu sebelum pengumuman UTM IPB, aku sudah bilang pada ibuku kalau aku berencana ikut tes ujian mandiri PTN lagi. Ibuku setuju-setuju saja asal di daerah sekitar DKI Jakarta. Dan setelah aku tahu aku gagal di jalur UTM IPB, aku pun berencana ikut Penmaba UNJ yang pendaftarannya sudah hampir di tutup saat itu.

Aku ingin mengambil D3 di UNJ saja. Aku yakin kalau teman-teman seperjuanganku pasti mengambil S1 UNJ, otomatis peluangku sangatlah kecil dan tipis. Karena itu aku ingin berbeda.
Aku memutuskan untuk tidak mengikuti lagi tes yang ada sainteknya. Aku lelah berhitung. Aku ingin yang menghafal menghafal saja. Aku ingin mencoba menjadi anak IPS dengan belajar soshum dari buku SBMPTN Soshum yang aku pinjam dari temanku.
Aku pun mendaftar Penmaba UNJ. Tapi aku meminta ibuku membantuku memilih prodi D3 apa yang harus aku ambil. Karena ibuku dulunya anak IPS, dan beliau sudah merasakan asam garam kehidupan. Beliau tahu jurusan apa saja yang banyak peluang kerjanya. Jadi kali ini, tidak seperti tes-tes PTN sebelumnya, kali ini aku pasrah saja pada pilihan ibuku. Dan ibuku memilihkan 2 prodi yaitu,
1. Manajemen Pemasaran D3 UNJ
2. Transportasi D3 UNJ
Setiap hari menjelang waktu tes, aku terus belajar pelajaran-pelajaran anak IPS. Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Sejarah aku mulai memahaminya sedikit demi sedikit. Aku berterima kasih sekali pada dua sahabatku, sebut saja destricito yang meminjamkan buku SBMPTN Soshumnya padaku dan icos yang mengijinkanku memfotokopi Soal Try Out Penmaba UNJ miliknya. Aku jadi punya sedikit bekal untuk Penmaba UNJ.

Hari tes pun tiba. Lokasi Ujianku di UNJ Gedung D. Aku berangkat diantar ibuku. Dan sampai disana aku harus menunggu 2 jam lebih sebelum tes dimulai, karena datang pagi sementara tesnya dimulai jam 10. Tapi aku tidak keberatan menunggu. Aku mulai mengajak ngobrol beberapa peserta dan melawak hingga kami tertawa bersama. *ntah sejak kapan aku jadi mudah dan sering membuat lawakan* Aku juga bertemu dengan salah satu teman kost an ku, sebut saja puji. Aku merasa senang sekali. Kami berdua sempat bercerita tentang pengalaman kami les dan ngekost di Bogor, tapi puji mengungkapkan kekesalannya juga rasa kecewa yang mendalam karena gagal masuk IPB. *just like me wohoo*

Aku bersyukur sekali Penmaba UNJ tidak ada sistem minus seperti STMI, jadi kalaupun aku tidak mengerti, tidak bisa, dan tidak tahu, aku tetap bisa ngasal dan tidak perlu mengosongkan lembar jawab hehehe..
Meskipun aku berhasil mengerjakan hampir setengah dari total soal tes Penmaba UNJ dengan jawaban yang aku sendiri yakin dan sisanya aku ngasal, ada beberapa hal tidak mengenakan terjadi pada hari tes.
Pertama aku dikira mau nyontek karena lama sekali menaruh tas di depan ruang ujian. Padahal itu karena aku mencari tempat pensilku. Aku panik sekali karena cemas tidak bawa alat tulis. Aku takut tidak bisa ikut tes karena tidak diperbolehkan meminjam alat tulis sesama peserta. Kedua, aku ditegur keras karena terlambat menyerahkan lembar jawaban beberapa detik. *pengawasnya galak*  Ketiga, aku ingusan! ingusku selalu saja hampir menetes ke lembar jawabanku. Jadi aku membawa beberapa lembar tisu pada tes kedua setelah selesai istirahat. Aku tidak nyaman karena semua orang dalam ruang ujian mendengar suara ingusku. Aku menggunakan tisu untuk mengelap ingusku, dan menaruh tisu yang sudah basah karenanya di bawah dekat kaki kursiku. Tapi itu malah menjadikanku semakin tidak nyaman karena aku merasa semua peserta dibelakangku dan 2 pengawas di depanku menatap jijik padaku. *hiiiiiiiiyyy, ngeri banget inget kejadiannya*

Setelah selesai tes, aku membeli rujak di depan kampus UNJ Gedung D dan aku berpamitan pada puji untuk pulang duluan. *rujaknya asli, enak parah!!! nyesel banget mau beli dua tapi gak jadi. Padahal lihat abangnya motongin buah yang seger-seger aja udah ngiler berat!* Aku pulang dengan Bus Transjakarta. Saat itu jalan menuju pulang macet parah dan tidak ada tempat duduk di bus, jadi aku berdiri menahan pegal.

Sampai di rumah, aku ditodong pertanyaan oleh ibuku yang sangat bersemangat menantikan ceritaku tentang ujian tadi.

"Gimana nak tesnya? Susah gak? Kamu bisa kerjain berapa soal nak?"

aku pun menjawab, "Biasa saja ma, tapi alhamdulillah lebih baik dari pada ngerjain soal saintek hehehe"

"Alhamdulillah, jadi berapa persen nih kamu yakin bakal lolos?" tanyanya lagi,

"Mmm" aku berpikir lama sebelum menjawab. "Aku sih sudah survey ma, beberapa peserta yang ujiannya soshum seperti ku saat aku tanya, seperti dugaanku. Mereka semua pilihan pertamanya S1 ma, dan hanya yang menaruh prodi D3 di pilihan kedua. Aku rasa sedikit sekali yang menaruh D3 pilihan pertama sepertiku. Kemungkinan peluangku lumayan besar ma. Aku juga tidak gugup saat tes tadi meskipun baru pertama kali tes soshum. Jadi kita berdoa semoga hasilnya baik sebaik firasatku ya ma hehe" jawabku saat itu.

Pengumuman Hasil Penmaba UNJ sangat cepat. Hanya 10 hari setelah tes.

Di hari pengumuman tanggal 25 Juli 2017 di jam 00:00 aku membuka website Penmaba UNJ saking tidak sabarnya. Dan ternyata pengumumannya diumumkan pada jam 2 siang.
Wah saat itu aku bodoh sekali. Mana mungkin pengumumannnya diumumkan tengah malam? hahahahaha.. Aku tertawa sampai bisa terlelap.
Aku tidak sabar menantikan pengumumannya hingga selalu menatap jam dinding, hahaha. Aku sangat bersemangat saat itu, sampai tibalah jam 14:00. Aku langsung mengambil hpku dan membuka websitenya. Dan terteralah tulisan bahwa tidak disarankan login dengan hp. Aku langsung membuka laptopku, menyalakan hostpot hpku, membuka google dan langsung login dengan memasukkan nomor pesertaku secara perlahan dan sangat teliti juga tanggal lahir. Anehnya, terjadi buffering yang agak lama dan mengharuskanku menunggu pengumumannya dengan sabar. Dan saat sudah keluar hasilnya,
Aku tidak percaya!!! Aku diberi ucapan selamat dan tidak menemui tulisan merah disana. Yang artinya, AKU DINYATAKAN LULUS SELEKSI PENMABA UNJ 2017!!!! Alhamdulillah, Allahu akbar! Aku langsung menangis dan sujud syukur saat itu juga.
Sambil menangis bahagia, aku langsung mengabari keluarga besarku lewat whatsappsahabat-sahabatku, para tentorku di Bimbel Katalis dulu, teman-teman kost an ku sewaktu di bogor, teman-teman sekolahku, dan semua orang yang pernah memotivasi dan memberikan semangat padaku, ku kabari mereka semua melalui akun sosmed. Dan mereka membalas dengan memberikan selamat atas perjuanganku selama ini. Aku sangat terharu membaca pesan mereka satu persatu.
Seperti inilah rasanya perjuangan yang berbuah manis. Aku sangat bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Aku senang sekali ketika ibuku memelukku dan kami menangis bahagia bersama. Dia berkata aku sangat hebat karena berhasil melanjutkan mimpinya untuk kuliah.
Aku sangat senang. Dan aku tidak lupa pada nazarku. Aku malah bersemangat untuk menjalankannya. Aku sudah dapatkan apa yang aku inginkan, kini tibalah saatnya aku membayar hutangku pada Allah subhanahu wa ta'ala.


Sekian dulu ceritanya ya, insya Allah aku lanjutkan saat senggang dengan membuat postingan terbaru, yaitu berbagi TIPS MASUK PTN YANG SEBENARNYA.



Wassalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh..

Mohon tinggalkan komentar jika sudah membaca postinganku ini ya. Boleh berupa pertanyaan, saran, juga kritik. Aku akan jawab secepatnya! Terima kasih..


Komentar

  1. Balasan
    1. hai maaf aku baru liat. 50 soal seingatku. gimana udah kuliah?

      Hapus
  2. Kak aku mau tanya, tolong banget kak dibalas . Aku baru mau daftar penmaba unj, dan sama kaya kakak aku anak ipa yang hatinya ke ips . Aku mau daftar soshum di penmaba , dan dari cerita kakak berarti aku bisa ambil soshum aja kak bukan ipc? Karna akku pikir karna aku ipa jadi harus ambil ipc. Kalo bener gitu makasih banyak kak, blog kakak sangat membantu 🙏🙏🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya aku soshum, kamu juga pasti bisa. gimana kuliahnya sekarang. jadi mahasiswa apa nih? maaf ya aku udah lama gabuka blogku.. 2021 lalu aku sempet buka ga sempet bales. maaf banget ya telat sekali

      Hapus
  3. Oh iya kak melanjutkan yang diatas, kakak masuk di pil pertama atau kedua kak? apa ada kemungkinan buat dapet di pil keduanya kalo pil pertama gak dapet?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku masuknya pilihan pertama.

      ada dong kan masih dikampus yang sama.

      semoga saat ini kamu kuliahnya lancar ya dan karirnya sukses! aamiin

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pekerjaan