BAD FAMILY BAD CHILDHOOD #PART 1
Hai. Udah lama ya?
Aku ingin menceritakan kisah hidupku. Sebelum itu, kalian akan kuingatkan betapa membosankannya ceritaku ini untuk dibaca. Untuk itu bacalah jika kalian mau menghabiskan waktu kalian untuk kisahku ini. Namun jika tidak, lewati saja dan lakukan hal lain yang lebih bermanfaat. Terima kasih.
Mari mulai ceritanya,
...
Pertengahan tahun 1999, aku lahir. Banyak hal yang terjadi saat aku lahir sampai ketika sekarang..
Ya. Aku seorang anak dari ayah dan ibu yang telah bercerai saat aku berusia 2 tahun. Aku anak kedua. Abangku saat itu berusia hampir 5 tahun ketika ibuku meninggalkan Kota Medan bersamaku untuk lari ke Jakarta. Kenapa aku? Kenapa hanya aku dan tidak bersama abangku? Ibuku berkata bahwa perjanjian perceraiannya saat itu adalah masing-masing dari mereka membawa satu anak. Karena aku anak perempuan dan ibuku paham betul bagaimana kehidupan di dilingkungan bapakku, maka dia memilihku dan dengan berat hati mengikhlaskan abangku, anak pertama serta anak laki-laki yang sangat ia sayangi. Berurai air mata ibuku pergi membawaku naik kapal setelah mengantar abangku pergi sekolah TK. Sedih mengetahui cerita ini karena abangku yang saat itu masih kecil tidak tau ibu dan adiknya akan pergi meninggalkannya, lebih tepatnya kami berdua tidak tau apa-apa. Ibuku menggendongku, sambil meyakinkan hati dan pikirannya bahwa ini memang keputusan yang terbaik saat itu. Juga dengan berpegang pada kalimat bapak yang berjanji akan membawa abangku menemui ibuku dijakarta.
Nyatanya tidak.
Ibuku mengalami stress karena perceraian dan juga traumanya hidup bersama manusia yang kurang pantas disebut Suami. Seorang kepala rumah tangga yang bahkan tidak pantas disebut demikian karena tidak menafkahi anak-anaknya melainkan mengambil uang simpanan istrinya, mengambil uang kiriman mertuanya untuk anak kandungnya. Pola pikir mereka sudah sakit, menerutku begitu. Mereka itu diantaranya, bapakku, ibu bapakku, dan keluarganya yang tinggal satu lingkungan bersama, kecuali orang-orang baik yang pernah tulus menolong ibuku, aku, dan abangku saat itu.
Sampai di Jakarta bukan berarti aku hidup bahagia bersama ibuku. Oh tentu tidak sama sekali, karena aku ditinggalkan ibuku dirumah nenek. Begitu cerita asli yang kudengar dari salah satu adik mama.
Aku mematung berdiri didepan pintu rumah yang didalamnya orang-orang sedang berdebat. Nenek dari ibuku, Abang ibuku atau uwa, dan 3 Adik perempuan ibuku alias tante1, tante2, tante3.
Kira-kira begini isi percakapan singkatnya,
uwa : "Ku bunuh anak si *****(nama disamarkan) itu. Nikah kawin lari kok anaknya dikasih kekita seenaknya aja"
tante1 : "Lu bunuh dia, bunuh dulu gue to (panggilan orang batak 'ito')"
Lalu nenek melerai mereka.
Tante1 cukup emosional dengan perkataan tidak mengenakan uwa karena dia baru saja keguguran, jelas hal yang sangat menyakitkan baginya bila abangnya berkata demikian didepan dia yang masih baru kehilangan anak dirahimnya.
Singkatnya mereka merawatku. Tidak terlalu baik namun cukup untuk membuatku bertumbuh kembang sambil mengerti dengan cepat bahwa situasi dirumah itu cukup banyak yang membuatku merasa tidak aman dan nyaman sebagai anak kecil yang sedang dalam pertumbuhan emasnya.
Banyak cerita kekerasan yang ku alami dari tante2. Ntah mengapa terasa sekali dampaknya pada diriku yang tumbuh menjadi orang yang 'lemot' dalam berpikir juga terkadang 'kasar' dalam berbicara maupun perbuatan.
Aku pernah dikurung didalam kamar mandi berjam-jam yang saat itu didalamnya banyak kecoanya, lampunya dimatikan sehingga aku pun takut dengan gelap sekaligus menahan jijik dan rasa histeris. Aku menangis minta dibukakan. Namun sepertinya begitulah cara mereka mendidikku. Ada yang merasa ini hal yang sepatutnya ku terima karena aku yang tidak patuh pada mereka saat kecil, ada pula yang diam bungkam karena tidak memedulikanku. Ya sudah, itu sudah terjadi.
Meski begitu aku tidak lupa bagaimana aku dicubit setiap kali aku membuat kesalahan yang berujung dengan banyak hadiah ditiap bagian tubuhku dengan tanda memar berwarna biru juga ungu. Cubitan yang paling berbekas adalah ketika aku berbohong telah menghabiskan telor ceplok dengan nasi sekitar 3centong disaat aku tidak ingin makan, aku membuangnya ke dalam tong sampah dapur dibawah wastafel cucian piring. (pada dasarnya waktu kecil aku memang susah makan karena seringkali tidak nyaman saat makan, atau harus makan sampai dirasa perutku benar-benar buncit, rasanya mual ingin muntah karena perutku serasa akan meledak apalagi kalau dipaksa menelan makanan dengan cara minum air agar makanan cepat turun dan harus melahap kembali). Akhirnya tante2ku mengambil piring lagi dan menuangkan nasi 3 centong yang harus aku habiskan. Dia memberikan piringnya sambil melotot dan menungguiku makan hingga selesai.
Aku tidak ingat berapa kali aku dicubit dan apa saja kesalahanku karena sepertinya hidup saja sudah menjadi kesalahan terbesarku. Meskipun belum genap 5tahun aku sudah menyadari hal itu. Dicubit terus menerus, rasanya sakit, namun terlalu sering, hingga kadang tidak terasa apa-apa sampai ketika ibuku yang baru pulang dari Malaysia menjadi TKI pulang dan memandikanku, kemudian dia melihat dan berkata..
"Loh ini apa? kok biru-biru begini nak? Kamu kenapa? ini kenapa nak badan kamu?"
Ya. Ibuku pergi meninggalkanku untuk pergi menjadi TKI. Sebelum resmi menjadi TKI, dia mengikuti pelatihannya di daerah yang aku lupa dimana namun masih di Pulau Jawa.
Kembali ke hari itu dirumah nenek, dikamar mandi utama- (saat dikurung aku dikamar mandi ke-2 yang sebenarnya dipakai untuk ART saat itu ketika nenek masih punya sebelum insiden banyak barang hilang katanya, ntahlah.)- aku tidak menjawab apa-apa, hanya ikut mengamati tubuhku terutama bagian paha yang paling banyak memar birunya. Aku tau ibuku tidak akan memarahi saudaranya. Mengadu adalah hal yang percuma. Ibuku bukan tipe orang yang melawan dalam banyak hal. Aneh tapi begitulah dia. Aku dicubit lagi. lagi dan lagi. terus menerus selama aku masih dalam asuhan mereka dan berada dekat dengan mereka semasa kecil.
Pernah saat aku keceplosan berbicara hal yang tidak kuketahui maknanya saat itu -(sebenarnya ini agak lompat waktu namun aku ingin menceritakannya disini sekalian saja)- bibirku dicubit sambil dipelintir 180derajat. Kaget dan sakitnya bukan main saat tante2 menghampiriku dan langsung melakukan hal demikian. Luar biasa. Bagi masa kecilku dialah monsternya.
Waktu terus berjalan.. monster-monster lain pun ikut menampakkan diri seakan sudah waktunya bagi mereka memperlihatkan diri.
...
Tanah nenek, atau tanah peninggalan opung untuk nenek- (mereka bercerai sudah cukup lama) -cukup luas. Nenek menjadikan tanahnya kontrakan dan menyewakannya sebagai untuk lahan usaha. Saat itu nenek pun memiliki usaha wartel. Aku sering digendong nenek sambil menjaga wartel. Aku bermain telepon-teleponan sendiri dengan berpura-pura ada yang meneleponku. Atau terkadang aku juga ikut berjaga sebentar saat nenek ke toilet. Namun lebih sering tante3 yang membantu menjaga ketika nenek sedang sibuk.
Tante3 bukanlah orang yang keibuan saat itu ia belum genap 20an. Dulu dia memiliki banyak pacar. Aku sering dibawa ikut ketika dia akan pergi menonton dengan pacarnya. Aku ingat dengan jelas aku duduk dipaling depan - pacarnya - baru tanteku. Seingatku 2x pergi kebioskop dengan tanteku dan pacarnya dengan cara yang sama namun 2x pula aku tertidur dalam bioskop dan tidak tau jalan cerita filmnya seperti apa, judulnya pun aku lupa.
Aku jarang sekali berinteraksi dengan tante3ku ini. Ada rasa tidaknyaman yang kurasakan saat didekatnya. Yang paling kuingat adalah ketika aku belum mau tidur. Aku diomeli habis-habisan oleh tante2 dan tante3, dipaksa tidur. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Jam tidurku adalah hal baku tidak dapat diubah. Tepat jam 9 aku harus sudah tidur. Pernah sekali aku mencoba melawan saat aku masih belum mengantuk, aku masih ikut menonton televisi bersama nenek diruang tengah. Seingatku itu hari Sabtu.
tante3 : "BONCEL TIDUR JAM BERAPA INI?"
aku : "Tapi kan ini hari libur sekolah tante.."
tante3 : "GA ADA TAPI-TAPIAN ANAK KECIL NGELAWAN. MAU SABTU/MINGGU TIDUR TETEP JAM 9. CEPET TIDUR."
Aku hanya bisa pasrah dan jalan ke kamar mandi karena wajib cuci tangan dan kaki sebelum tidur. Lalu berbaring disebelah tante3. Tidak ada kamar khusus dirumah itu. Memang ada 4 kamar. Tapi aku selalu tidur didampingi.
Aku mencoba bercanda dengan tanteku
aku : "tante tebak aku lagi merem atau ngga?"
tante3 : "Ngga."
aku : "tante tebak aku udah tidur belom? hehe"
tante3 : "Belom. CEPET TIDUR JANGAN BANYAK OMONG UDAH JAM 9 LEWAT"
Hmm aku lumayan kaget saat itu dan langsung merem maksa diriku sendiri buat tidur pindah ke alam mimpi. Beberapa hari setelahnya aku mencoba bercanda lagi.
aku : "Tante aku mimpi ini.. blablablabalbalbakblablablablablaalbalbalbalbalabalbal (panjang ceritanya)"
tante3 : "Itumah ngarang"
aku : "loh kok tante bisa tau?"
tante3 : "ya tau lah, orang kamu ceritanya begitu udah ketebak"
Hmm tidak seru pikirku. Beberapa hari kemudian aku juga pernah mencoba bercanda dengannya di wartel nenek, saat itu dia sedang menjaga wartel, aku juga ada didalamnya bermain sendiri. Kemudian nenek datang membawakan buah mangga yang sudah dikupas dan potong sebagai cemilan untuk tante3. Karena saat itu masih pagi aku mengatakan hal yang pernah dia katakan padaku
aku : "tante gaboleh makan mangga kan belom makan nasi"
nenek : "udah biarin"
tante : "ANAK KECIL NGATUR YA"
Aku tidak menyangka responnya akan menjadi marah, kupikir ia akan mengerti aku mengatakan demikian karena dia sering kali mengomentariku seperti itu ketika aku makan buah. Aku merasa hanya mengingatkannya dengan cara yang sama tapi kenapa dia membentakku sedangkan aku tidak pernah membentaknya pikirku yang masih polos kala itu.
Meski ingat sering tidak nyaman karena omelannya, anak kecil tetap anak kecil yang akan kembali tertawa di lain momentum.
Aku pernah mencoba berpose dimotor uwa ketika akan difoto tante3. Aku memakai gaun putih yang sebenarnya gaun untuk pergi ke gereja yang aku bawa dari medan kala itu (mungkin gaunnya dibeli oleh ibuku sehingga ia bawa, ntahlah). Dengan pose 2 jari membentuk huruf v aku tersenyum menyengir, kemudian,
tante3 : "aduh jelek banget mukanya begitu. Coba mingkem aja giginya jangan diliatin."
aku : (berpose tersenyum biasa mengikuti arahannya)
tante3 : "jelek, coba jangan senyum, nah iya gitu ga senyum lebih mendingan, coba lagi-lagi ganti gaya"
Kemudian aku melihat hasil jepretannya dikamera
tante3 : "nih liat, bagus kan fotonya"
aku hanya bisa nyengir sembari ber he he he
...
Ada juga cerita tentang uwa. Seingatku, uwa adalah orang mengusulkan agar namaku menjadi Siti, karena ada unsur islamnya katanya, jadi waktu TK aku memakai nama itu dan masuk ke TK Islam. Aku juga pernah dibonceng uwa dengan sepeda motornya beberapa kali namun ternyata kenangan itu adalah kebahagiaan palsu setelah kuketahui cerita asli masa kecilku dari tante1 yang mengatakan uwa ingin membunuhku saat aku kecil. Uwa juga orang yang mengatakan aku jelek, kurus, dan hitam. Sedangkan yang lain mengatakan aku cantik waktu kecil. Aku pernah beberapa kali bermain dengan anak pertamanya sebut saja V, dia perempuan. Harus ku salim dan panggil kakak meskipun umurnya dibawahku. Yah aku tidak keberatan dengan itu. Tapi aku dan V tidak pernah menjadi dekat. Karena tidak banyak hal yang kami lakukan. Meskipun aku ingat kita pernah main bersama dirumah nenek dan pernah jalan-jalan dan main di sebuah tempat disekitar depok, aku rasa dia tidak menganggapku saudaranya karena dia selalu biasa aja hampir seperti tidak mengenal aku siapa ketika kami bertemu kembali. Pada intinya aku tidak dekat dengan uwa, anak-anaknya, maupun istrinya. Hanya sekedar kenal muka saja karena mereka begitu tertutup.
...
BERSAMBUNG
Cerita selanjutnya tentang tante1 dan suaminya yang kuanggap baik saat itu juga hubungannya dengan masa sekarang dimana ada kejadian yang tidak kusangka.
kemudian ada cerita tentang pelecehan yang aku alami oleh 2 orang. yang satu adalah tentang oknum pedagang mainan di SD ku, yang satu lagi sangat parah orang terdekat.
juga ada cerita tentang nenek dan tante 1 yang gemar menggibah.
cerita tentang adik-adik tiriku.
ada juga kisah tentang mencari di fb, jemput abang dan tinggal bersama dirumah burung. juga kisah yang mengecewakan tinggal bersama abang dan istrinya.
part selanjutnya akan kubagi-bagi dari segi umurku atau dari tahun aku sekolah, tergantung seberapa tajam ingatanku agar tidak terlalu membosankan.
di lain part aku juga akan cerita tentang pacarku. orang yang kadang support aku, kadang sangat menyebalkan.
Terima kasih telah menjadi pengunjung blog ku dan membaca ceritaku.
Komentar
Posting Komentar